Penulis: Faradillah Dwi Sartika merupakan Mahasiswa lulusan terbaru dari Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
Di era globalisasi yang saat ini semakin maju, organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah banyak menghadapi tantangan dalam mengelola Sumber Daya Manusia (SDM) dalam konteks lintas budaya.
Pentingnya kepemimpinan inklusif dan kolaboratif dalam menghadapi tantangan ini semakin terasa dari zaman ke zaman. Opini ini bertujuan untuk menjelaskan konsep kepemimpinan inklusif dan kolaboratif dalam organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.
Lintas budaya menggambarkan pentingnya pendekatan ini, serta merinci strategi dan keuntungan yang dapat diperoleh dari setiap penerapannya.
Kepemimpinan inklusif mengacu kepada pendekatan kepemimpinan yang menghargai keberagaman, mempertimbangkan setiap perbedaan individu, dan menciptakan lingkungan organisasi yang inklusif bagi semua kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, tanpa adanya memandang latar belakang budaya mereka.
Disisi lain, kepemimpinan yang kolaboratif melibatkan penggunaan gaya kepemimpinan yang mendorong Kerjasama, partisipasi aktif, dan pertukaran ide diantara anggota tim. Kedua jenis kepemimpinan ini memainkan peran penting dalam organisasi lintas budaya.
Pertama, kepemimpinan inklusif akan membentuk lingkungan organisasi yang aman dan selalu menghormati setiap keberagaman budaya. Dalam lingkungan inklusif ini, setiap kader yang merasa dihormati, dihargai, dan didengar akan meningkatkan kepuasan kerja, motivasi, dan keterikatan sebagai kader organisasi itu sendiri.
Kedua, kepemimpinan kolaboratif memungkinkan dalam menggabungkan beragam keahlian dan perspektif diantara setiap kader lintas budaya. Kolaborasi yang efektif akan menghasilkan gagasan baru, solusi yang kreatif, dan pengambilan keputusan yang lebih baik lagi karena melibatkan seluruh kader dalam organisasi.
Hal ini mampu memperkuat rasa memiliki dan keterlibatan kader, serta meningkatkan kinerja tim secara keseluruhan.
Ada beberapa strategi yang perlu digunakan untuk mengembangkan kepemimpinan inklusif dan kolaboratif dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang lintas budaya. Pertama, pemimpin harus memiliki pemahaman yang mendalam tentang perbedaan budaya setiap kader.
Pemimpin harus berinvestasi dalam mempelajari dan menumbuhkan nilai-nilai, norma, dan harapan budaya yang berbeda. Pemahaman ini memungkinkan pemimpin untuk menghargai perbedaan dan menghindari diskriminasi antar kader.
Kedua, pentingnya untuk setiap pemimpin mengembangkan keterampilan komunikasi yang inklusif dan efektif. Pemimpin harus mampu berkomunikasi dengan jelas, terbuka, dan sensitif terhadap perbedaan budaya dalam organisasi.
Pemimpin harus mendorong dialog yang terbuka bagi seluruh kader, menghargai pendapat terhadap pemikiran yang berbeda, serta membangun hubungan kepemimpinan yang saling dihargai oleh setiap kader.
Kepemimpinan inklusif dan kolaboratif ini akan membawa berbagai manfaat bagi setiap organisasi lintas budaya. Karena, kepemimpinan inklusif menciptakan lingkungan organisasi yang adil bagi seluruh kader dan memberikan kesempatan seluruh kader untuk terus berpartisipasi dan berkembang kearah yang lebih baik lagi.
Hal ini juga dapat meningkatkan citra positif didalam organisasi. Kepemimpinan yang kolaboratif dapat memperkuat kinerja kader dengan kolaborasi, dengan ini pemimpin mendorong pemecahan masalah Bersama, berbagai pengetahuan dan pertukaran ide diantara anggota.
Dengan pemahaman yang mendalam mengenai perbedaan budaya dan pengembangan keterampilan komunikasi yang inklusif, pemimpin dapat membangun tim yang kuat dan produktif.
Keuntungannya meliputi peningkatan keterlibatan, kinerja anggota yang lebih baik, dan peningkatan inovasi seluruh kader. Oleh karena itu Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah perlu mengakui pentingnya kepemimpinan yang inklusif dan kolaboratif dalam menghadapi tantangan lintas budaya yang semakin kompleks.



