Tumpukan Batu Padas dan Pasir Blokir Jembatan Soekarno-Hatta Tarutung, Warga Kesulitan Melintas

Taput (Neracanews) – Warga di lingkungan Jalan Rangkea Sipagagan, Kelurahan Hutatoruan V, Kecamatan Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara, mengeluhkan keberadaan tumpukan material batu padas dan pasir sungai yang berserakan di akses Jembatan Soekarno-Hatta. Penumpukan tersebut dinilai sangat mengganggu keluar-masuk warga, memicu keresahan dan polemik di tengah masyarakat.

Tumpukan material diletakkan begitu saja di badan jalan, di kedua sisi hingga di atas jembatan, tanpa disertai papan informasi apa pun. Akibatnya, lebar jalan menyempit dan menyulitkan kendaraan roda empat untuk melintas dengan lancar. Warga menilai penempatan material tersebut sama sekali tidak mempertimbangkan dampak yang dirasakan warga sekitar.

Kawasan Rangkea Sipagagan sebenarnya memiliki dua akses jalan keluar-masuk: selain Jembatan Soekarno-Hatta, terdapat pula jalur di samping Hotel Kenari Tarutung. Namun, akses itu sangat sempit dan hanya bisa dilalui kendaraan kecil — tidak memungkinkan untuk dilalui truk dump maupun kendaraan besar lainnya. Artinya, jika Jembatan Soekarno-Hatta terhalang, warga praktis kehilangan akses utama.

Seorang warga yang terdampak dan meminta namanya tidak dipublikasikan, saat dikonfirmasi media ini, menyampaikan kekesalannya.

“Kami harap tumpukan itu diletakkan di sisi jalan yang tidak menghambat, agar kami tetap bisa melintas dengan nyaman. Kami tidak tahu material ini untuk apa dan siapa yang menaruhnya. Tidak ada pemberitahuan, tidak ada koordinasi. Begitu saja sudah menumpuk di jalan,” ungkapnya pada wartawan, Selasa (25/8/2026).

Kondisi ini terasa ironis mengingat Jembatan Soekarno-Hatta baru saja diresmikan pada 21 Agustus 2021 — jembatan yang menghubungkan Desa Aek Siansimun dengan Kelurahan Hutatoruan IX, X, dan XI. Mengalami kerusakan akibat banjir yang terjadi baru-baru ini, kini justru jalur vital tersebut terganggu oleh tumpukan material tanpa kejelasan siapa yang bertanggung jawab.

Berdasarkan pantauan wartawan, di kawasan Jalan Rangkea Sipagagan terlihat adanya informasi dan aktivitas workshop pembuatan blok beton untuk Pekerjaan Pengendalian Dasar Sungai Aek Sigeaon Tahap II, di bawah naungan Kementerian Pekerjaan Umum, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Balai Besar Wilayah Sungai Sumatera II Medan. Namun hingga berita ini diterbitkan, belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas tumpukan batu padas dan pasir yang menghambat akses warga tersebut. (Henry)

Berita Untuk Anda

Terpopuler

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

Cabang Kejaksaan Negeri Mandailing Natal di Natal Musnahkan Barang Bukti Perkara Tindak Pidana Umum yang Telah Inkracht

Neracanews | Mandailing Natal - Cabang Kejaksaan Negeri Mandailing Natal di Natal melaksanakan pemusnahan barang bukti perkara tindak pidana umum yang telah berkekuatan hukum...

Klarifikasi Pengusaha Warung Terkait Video Viral Tarif Parkir Rp20.000 di Deleng Singkut

BERASTAGI — Pengusaha warung _Ocon Ginting_ di kawasan Deleng Singkut, Kecamatan Berastagi, Erma Br Tarigan menyampaikan klarifikasi sekaligus permohonan maaf terbuka kepada Pemerintah Kabupaten...

Mengabaikan Keputusan DPRD Medan, Bangunan Tanpa PBG Milik Pintor Sitorus Tetap Beraktivitas

MEDAN - Mengabaikan keputusan hasil Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IV DPRD Kota Medan, aktivitas pembangunan properti di Jalan Sisingamangaraja Gang Sumatera No. 15,...

Tanggapi Berita Viral Pungli Parkir, Pemkab Karo dan Polsek Berastagi Memberi Edukasi ke Pengusaha Wisata di Deleng Singkut

KARO – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karo bergerak cepat merespons keresahan masyarakat terkait berita viral tindakan pengutipan uang parkir secara ilegal di kawasan wisata Deleng...

Ketua TP Posyandu Asahan Tinjau Posyandu Manggis dan Tracing TBC Terintegrasi CKG di Teluk Dalam

Ketua Tim Pembina Posyandu Kabupaten Asahan, Ny. Yusnila Indriati Taufik, melakukan kunjungan pembinaan ke Posyandu Manggis di Desa Air Teluk Kiri, Kecamatan Teluk Dalam,...