INHU— Harga komoditas daging ayam ras di pasar tradisional Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) melambung tinggi. Berdasarkan data Indeks Perkembangan Harga (IPH), harga daging ayam ras di wilayah ini menembus angka Rp46.636 per kilogram, atau melonjak 16,58 persen di atas Harga Acuan Penjualan (HAP) tingkat konsumen yang ditetapkan sebesar Rp40.000 per kilogram.
Kenaikan signifikan ini memicu keluhan luas dari masyarakat, terlebih beredar spekulasi di tengah warga bahwa melonjaknya harga berkaitan dengan tingginya permintaan pasar pasca-aktifnya program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Disperindagkop UKM) Kabupaten Inhu, Tukiyat S.Sos, MH membenarkan adanya kenaikan harga tersebut. Ia menyatakan pihak daerah telah melaporkan kondisi lonjakan harga ini secara berkala ke kementerian terkait.
“Betul, sudah kami laporkan ke Kementerian Perdagangan melalui aplikasi,” ujar Tukiyat saat dikonfirmasi, Sabtu (22/8/2026).
Kendati demikian, Tukiyat mengungkapkan bahwa Disperindag memiliki keterbatasan dalam melakukan intervensi harga secara langsung untuk komoditas daging ayam ras, berbeda dengan komoditas bahan pokok strategis lainnya.
“Kita tidak bisa intervensi kalau daging ayam, karena dari tingkat produsennya memang sudah mahal. Kecuali beras, minyak goreng, dan gula, itu bisa kita intervensi melalui operasi pasar,” jelasnya.
Menanggapi harapan warga terkait kemungkinan dilakukannya Operasi Pasar Murah khusus daging ayam ras untuk meredam lonjakan harga, Tukiyat menyebut langkah tersebut belum dapat direalisasikan dalam waktu dekat. Hal ini disebabkan oleh ketersediaan stok di tingkat penyedia logistik resmi.
“Kalau untuk operasi pasar khusus daging ayam belum bisa, karena dari pihak Perum Bulog belum ada stok daging ayam yang tersedia. Yang ada di Bulog saat ini beras, minyak goreng, dan gula. Jadi untuk sementara belum bisa dilakukan operasi pasar khusus ayam,” tambahnya.
Sebagai alternatif taktis, Disperindag Inhu kini berupaya menjajaki jalur pasokan baru dari luar daerah guna menekan harga di tingkat pedagang lokal.
“Langkah yang bisa kita lakukan adalah mencari pemasok-pemasok daging ayam dari luar Inhu yang harganya lebih murah,” tegas Tukiyat.
Terkait persepsi masyarakat yang mengaitkan lonjakan harga dengan pengoperasian program Makan Bergizi Gratis (MBG), Tukiyat tidak menampik adanya tren kenaikan yang bersamaan secara periodik.
“Kalau dilihat dari tren harga sebelum MBG aktif kemudian dibandingkan setelah aktif, memang benar mengalami kenaikan,” diakuinya.
Namun demikian, ia menekankan bahwa penanganan dan pengendalian inflasi daerah tidak berada di bawah wewenang Disperindag semata, melainkan melibatkan jajaran lintas sektor dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
“Tim pengendalian harga ini sifatnya lintas sektor, jadi tidak Disperindag sendiri, tetapi melibatkan instansi terkait lainnya seperti Dinas Ketahanan Pangan dan dinas-dinas teknis lainnya,” tutup Tukiyat. (Benny MS)



