Pemuda Tanjungbalai Kirim ‘Pesan Maut’ Lewat Keranda: Arlinda, Siap-Siap Diburu Hukum

Tanjungbalai – Suasana Kota Tanjungbalai pada Rabu (30/7/2025) mendadak bergemuruh. Ratusan pemuda yang tergabung dalam Koalisi Aktivis Pemuda Kota Tanjungbalai Bersatu turun ke jalan. Mereka tak datang dengan tangan kosong—sebuah keranda mayat dan spanduk bergambar Arlinda dibentangkan sebagai simbol kemarahan publik terhadap konten TikTok “Jantung Pisang86” yang dianggap menghina dan merendahkan martabat warga Tanjungbalai, bahkan seluruh WNI.

Arlinda, seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Batu Bara yang kini berada di Malaysia, menjadi sorotan setelah sederet video provokatifnya viral di media sosial. Dalam salah satu kontennya, Arlinda menyebut warga Tanjungbalai memiliki “perangai orang kampung yang sangat rakus.”

“Ucapan itu bukan hanya kasar, tapi jelas-jelas penghinaan yang tidak bisa ditoleransi. Kami bukan kampung yang bisa seenaknya direndahkan!” tegas Alrivai Zuhairisah, koordinator aksi yang juga dikenal sebagai aktivis vokal di Tanjungbalai. Aksi ini dimulai dari Lapangan Sultan Abdul Jalil Rahmadsyah dan berakhir di depan Gedung DPRD Kota Tanjungbalai.

Sepanjang long march, massa terus meneriakkan yel-yel dan orasi menuntut Arlinda segera diproses hukum. Menurut mereka, ini bukan hanya soal harga diri Tanjungbalai, tapi harga diri bangsa.

“Dia itu PMI juga, harusnya tahu bagaimana rasanya menjadi perantau. Bukannya saling dukung, malah menjelek-jelekkan sesama WNI, termasuk pemerintah sendiri. Ini sudah kebangetan!” kata Rina Mariana, PMI asal Tanjungbalai yang ikut dalam aksi protes.

Lebih lanjut, massa mendesak agar akun TikTok “Jantung Pisang86” segera diblokir dan pemiliknya diproses secara hukum atas dugaan ujaran kebencian dan penghinaan terhadap bangsa sendiri.

Aksi ini memuncak saat petisi kecaman terhadap Arlinda diserahkan kepada DPRD Tanjungbalai. Sekretaris DPRD, Hamdani, mewakili pimpinan dewan menyatakan dukungannya. “Kami sangat tersinggung dan akan berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk segera menindaklanjuti laporan ini,” ucap Hamdani di hadapan massa.

Tak berhenti di situ, perwakilan massa juga melanjutkan aksinya ke Polres Tanjungbalai untuk membuat laporan resmi terhadap Arlinda.

“Ini peringatan keras. Jangan kira bisa seenaknya hina Tanjungbalai lalu sembunyi di luar negeri. Rakyat kami bangkit, dan kami tak akan diam!” ujar Arif, salah satu orator.

Kota Tanjungbalai mungkin kecil, tapi bukan berarti bisa disepelekan. Semangat warganya untuk menjaga martabat daerah dan bangsa patut diapresiasi. Kebebasan berekspresi bukan tiket untuk melecehkan identitas orang lain”ujar Zuanda dengan lantang dalam orasinya.

(Ilham)

Berita Untuk Anda

Terpopuler

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

Siap Hadapi Era AI, Bupati Taput Ingin Siswa Kreatif dan Ciptakan Peluang Kerja

Taput (Neracanews) - Bupati Tapanuli Utara Jonius Taripar Parsaoran Hutabarat, menghadiri kegiatan Pentas Seni SMAN 1 Pagaran dengan tema "Mengukir Bakat, Merayakan Kreasi" yang...

Ada Selisih Dana Rp 300 Juta, Ketua Koperasi Dilaporkan ke Polisi

Taput (Neracanews) Ketua Himpunan Keluarga Toba Indonesia (HKTI) Kabupaten Tapanuli Utara, Erikson Sianipar resmi melaporkan Ketua Koperasi Tumbuh Sejahtera Bersama Petani, Erni Mesalina Hutauruk,...

Kantor Dewan Tapteng Diterpa Keributan

Tapanuli Tengah - Pandan (Neracanews) - Peristiwa keributan yang terjadi di Kantor DPRD Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) pada, Kamis (02/04/26) yang melibatkan unsur pimpinan...

Bupati Tapteng Hadiri Rapat Pembahasan Pengembangan Pertanian Berbasis AI

Tapanuli Tengah (Neracanews) - Bupati Tapanuli Tengah (Tapteng) Masinton Pasaribu, SH, MH hadiri rapat Pembahasan Pengembangan Pertanian Berbasis Artificial Intelligence (AI) di Kawasan Danau...

Bunda Literasi Asahan Tinjau Layanan Perpustakaan Keliling di Aek Ledong

Asahan — Bunda Literasi Kabupaten Asahan melakukan peninjauan langsung terhadap layanan perpustakaan keliling di SDN 015927 Padang Sipirok, Kecamatan Aek Ledong, pada Rabu (1/4)....