Sebuah marga bukan sekadar nama yang melekat pada seseorang. Di dalamnya terdapat identitas, sejarah, kekerabatan dan nilai-nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Karena itu, bagi Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas, penabalan marga yang akan diterimanya bersama Ketua TP PKK Kota Medan Ny. Airin Rico Waas bukan hanya sebuah kehormatan, tetapi juga amanah untuk mengenal, menjaga dan memperkenalkan budaya Karo lebih luas.
Makna tersebut disampaikan Rico Waas saat menerima Panitia Mburo Tedeh Ate sekaligus Penabalan Marga Wali Kota Medan di Balai Kota Medan, Senin (6/10/2026). Pertemuan itu membahas rencana pelaksanaan penabalan marga yang akan dikemas dalam suasana adat dan kebudayaan Karo. Acara tersebut direncanakan berlangsung di Gedung TP PKK Kota Medan, 7 November 2026.
Rico Waas mengaku bangga dan berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk menjadi bagian dari keluarga besar masyarakat Karo. Namun, ia menyadari penabalan marga juga membawa tanggung jawab yang tidak ringan. Menurutnya, setelah menjadi bagian dari keluarga besar masyarakat Karo, dirinya memiliki tanggung jawab untuk memberikan perhatian terhadap pemberdayaan masyarakat Karo sekaligus ikut memperkenalkan kebudayaannya ke masyarakat yang lebih luas.
“Ini bukan hanya soal penabalan marga. Ada tanggung jawab khusus setelah saya ditabalkan, bagaimana saya memberikan perhatian terhadap pemberdayaan masyarakat Karo dan ikut mempromosikan kebudayaan Karo ke kancah nasional,” kata Rico Waas.
Ia menegaskan, tanggung jawab tersebut tidak cukup hanya dengan menggunakan marga. Ia ingin memahami lebih jauh budaya yang menyertainya, mulai dari sejarah, bahasa, adat istiadat, musik tradisional hingga berbagai tradisi Karo yang diwariskan secara turun-temurun. Baginya, memahami budaya menjadi bagian penting agar kekayaan tersebut tidak hanya dikenal oleh masyarakat Karo, tetapi juga dapat dijelaskan dan diperkenalkan kepada masyarakat luas.
“Saya ingin bukan hanya melihat, tetapi juga memahami. Karena bahasa dan budayanya berbeda, kita harus bisa menjelaskan mengenai suku Karo. Itu menjadi bagian dari tanggung jawab saya,” ungkapnya.
Selain memperkenalkan budaya, Rico Waas berharap penabalan marga semakin mempererat hubungan kekerabatan antara dirinya dengan keluarga besar masyarakat Karo. Ia ingin marga yang diberikan tidak berhenti sebagai identitas, tetapi menjadi jembatan untuk menghadirkan manfaat bagi masyarakat, khususnya masyarakat Karo di Kota Medan.
Rico Waas juga menegaskan agar penabalan marga tersebut tidak dipandang dari sisi kepentingan politik. Ia ingin momentum tersebut dimaknai sebagai bagian dari kekerabatan dan penghormatan terhadap adat serta budaya Karo.
“Bangga hati saya diberikan marga. Mudah-mudahan dengan adanya penabalan ini ada manfaatnya. Jangan sampai hanya terkesan melekatkan nama atau untuk kepentingan politik. Saya ingin ini menjadi bagian dari kekerabatan dan memberikan manfaat bagi masyarakat Karo, khususnya di Kota Medan,” ujarnya.
Ketua Panitia Mburo Ate Tedeh sekaligus Penabalan Marga Wali Kota Medan Muhammad Edison Ginting mengatakan, acara tersebut akan dikemas sebagai prosesi adat yang khidmat dan dekat dengan keluarga besar masyarakat Karo. Selain prosesi penabalan, rangkaian kegiatan juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan beragam kekayaan budaya Karo kepada masyarakat.
Dikatakan Ginting, berbagai unsur budaya akan ditampilkan, mulai dari penggunaan alat musik tradisional Karo hingga prosesi adat. Rangkaian kegiatan juga akan diisi tradisi adu pengantin yang melibatkan tarian dan nyanyian serta manuk sangka atau makan nasi bersama.
“Kita akan menabalkan marga Wali Kota menjadi Ginting Suka bere-bere Tarigan, sedangkan Ketua TP PKK Kota Medan menjadi Beru Sembiring Pelawi,” jelas Ginting yang hadir bersama sejumlah panitia lainnya seperti Harry Indrawan Tarigan (Sekretaris Panitia), Gema Halelu Isa Meliala (Bendahara), Terkelin Eritha Br Tarigan, Asem Menitha Br Tarigan, Mikhawati Tarigan, Epta Riana Br Tarigan dan Hendra Tarigan.
Kegiatan Mburo Ate Tedeh sekaligus Penabalan Marga Wali Kota Medan ini, bilang Ginting, sejalan dengan konsep “Medan untuk Semua”, di mana keberagaman suku dan budaya menjadi bagian dari identitas Kota Medan. Melalui penabalan marga Rico Waas, ungkapnya, masyarakat Karo tidak hanya ingin memperkenalkan adat dan tradisinya, tetapi juga memperkuat kekerabatan serta kontribusi masyarakat Karo dalam kehidupan Kota Medan.
Ditambahkan Ginting lagi, , keberagaman merupakan salah satu kekuatan Kota Medan yang sejak dahulu menjadi ruang perjumpaan berbagai suku dan budaya. Karena itu, imbuhnya, penabalan marga tersebut diharapkan tidak hanya menjadi agenda internal masyarakat Karo, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun kebersamaan dan kolaborasi antarsuku.
Tidak itu saja, papsr Ginting, penabalan marga Rico Waas bersama Ny. Airin Rico Waas diharapkan tidak berhenti sebagai prosesi adat. Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi pintu untuk semakin mengenal kekayaan budaya Karo, mempererat hubungan antarsuku dan menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat di Kota Medan.
Sementara itu, tokoh masyarakat Karo, Roy Fakhrabi menyampaikan bahwa kegiatan tersebut sekaligus dirancang untuk memperkenalkan eksistensi masyarakat Karo di Kota Medan dan memperkuat hubungan antarsuku. Sejumlah kepala daerah, tokoh masyarakat dan tokoh adat direncanakan hadir dalam kegiatan tersebut. (As)








